“Ahahahah……. boleh juga. Daripada gue ngga laku-laku”. Canda Dita sambil tertawa lepas. Dasar
perempuan aneh. Kupikir bagaimana tanggapannya saat aku menawarkan dia menjadi
istri kedua suamiku. Ternyata dia tertawa seperti orang gila begitu. Aku juga
tidak serius sih tentunya. Ya masa iya rumah tanggaku yang kubina selama 10
tahun ini dan nyaris tidak ada masalah mau aku rusak dengan kehadiran madu
suami di rumah kami. Wuuiiih, tak terbayangkan deh bagaimana jadinya.
Awalnya candaan
itu terlontar ketika Dita sahabatku itu tiba-tiba minta dicarikan jodoh
untuknya. Maklum, aku yang lebih muda darinya sudah 10 tahun membina rumah
tangga. Sementara dia masih belum. Dita memang tergolong perempuan biasa-biasa
saja dan tidak pandai bersolek, padahal dia cukup manis ketika tatanan
rambutnya sedikit rapih dan wajahnya terpoles sedikit bedak. Tapi sayangnya dia
malas sekali melakukan itu.
Aku sebenarnya
ingin sekali menjodohkan dia dengan temanku yang satu bagian ditempat kerja
denganku. Tapi sepertinya dia tipe laki-laki yang terlalu memilih perempuan
modis. Sementara Dita. Yaah itulah Dita dia malas sekali merapihkan diri.
Seandainya saja dia nurut apa kataku, mungkin sudah sejak lama dia menikah.
Memang, yang namanya laki-laki pastilah menginginkan sosok wanita yang bisa
membuatnya bangga ketika harus berjalan dengannya. Dulu aku pernah
menjodohkannya dengan temanku yang lainnya, Keni namanya. Tapi sayang tidak
berjalan mulus. Sempat terpikir olehku kalau mereka mungkin akan jadian. Tapi
ternyata tidak. Keni lebih memilih temanku yang lain rupanya. Mira lebih
memikat hatinya. Tentu saja. Mira sosok perempuan yang nyaris tanpa gores,
cantik, berkulit putih, dan tinggi. Bak model jika dia sedang berjalan.
Akhirnya mereka menikah. Patah hatilah Dita. Tapi untungnya Dita bukan tipe
perempuan yang langsung ambruk begitu patah hati. Dita selalu santai menghadapi
perasaan hatinya.
”Waaa....hiks....hiks...” tiba-tiba Dita menangis seperti anak
kecil. Menangis bercanda tentunya. ”Lan, gue bakal di rolling ke cabang,
gimana dooong. Kita ga bisa sama-sama lagi doong”. Kaget sekali aku
mendengarnya. Tapi aku berusaha tenang. ”Ya udah sih ngga usah sedih.
Kita kan masih satu perusahaan, biar bagaimanapun pasti bakalan tetap sering
berhubungan. Jangan sedih begitu dong. Gue kan jadi ikutan sedih juga”.
Kataku pada Dita. ”Bukan Lan, bukan itu. Gue bukannya sedih pisah dari
lo, gue Cuma bingung aja, nanti gue ngantor nebeng siapa dong kalo ngga sama
lo?”. ungkap Dita sambil merajuk seperti anak-anak. ”Hmmm....
emang dasar lo ya, tukang nebeng. Gak modal”. ”Hahahahahaahah”. Kami
berdua tertawa.
Akhirnya Dita
pindah juga. Ini hari pertamanya mulai ngantor di cabang perusahaan tempat kami
bekerja. Berhubung kantor cabang kami satu arah dengan kantor suamiku, maka aku
minta suamiku untuk memberi tumpangan pada Dita setiap pagi. Semua berjalan
seperti biasa. Dita setiap hari menelpon ke ruanganku. Jika sampai sore Dita
tidak juga menelpon, aku yang gantian menelpon ke ruangannya. Kami begitu
dekat, hingga merasa kehilangan satu sama lainnya. Biasanya makan siang
bersama, kini sudah tidak ada lagi Dita yang menyodorkanku jus durian setiap
kali dia memesan minuman kesukaannya itu. Dia suka sekali meledekku yang tidak
suka durian itu dengan menyodorkanku minuman pesanannya ke hadapanku. ”Huweeek....”
begitu tanggapanku setiap kali Dita menyodorkan jus duriannya itu.
”Niit.....”, handphoneku berbunyi. SMS dari suamiku. ”Kamu
udah makan siang? Aku lihat Dita tuh lagi sendirian di Solaria. Sepertinya dia
makan siang sendirian. Belum dapat teman mungkin ya?”.
”iya, dia
pernah bilang kalo selalu makan siang sendirian, kamu sama siapa? Sama
teman-temanmu ngga mas? Ajak aja Dita makan bareng. Biar dia gak sendirian”. Balasku kemudian.
Hari ini aku
sibuk sekali. Hingga merasa lelaaah luar biasa. Sudah jam tiga sore, Dita belum
menelponku. ”Tumben”. Pikirku dalam hati. Aku coba menelponnya. Tapi
gagal terhubung. Sepertinya Dita sibuk. Besoknya Dita SMS dan bilang kalo
belakangan ini dia sibuk sekali, hampir tidak ada waktu untuk menelpon atau
berkirim kabar padaku. Aku mengerti, aku memahami bagaimana sibuknya Dita
dengan pekerjaan barunya yang mungkin perlu adaptasi lagi.
Suatu hari aku
melihat ada yang aneh dengan teman-teman kantorku seruangan. Mira, Lisa, dan
Michele seperti berbisik-bisik sambil melirik ke arahku. Entah hanya perasaanku
saja atau mereka memang sedang membicarakanku. Aku tidak tahan melihat
perlakuan mereka seperti itu padaku. Akhirnya kuberanikan diri bertanya pada
salah seorang dari mereka. Kebetulan aku dekat dengan Mira istri Keni yang dulu
pernah kujodohkan dengan Dita.
”Mir,
kalian ko kaya lagi ngomongin gue deh. Ada apa sih? Pliiis jujur aja kalo ada
perlakuan gue yang kurang baik. Supaya bisa gue perbaiki dan ngga ada salah
paham diantara kita. Gue ngga enak, kitakan satu ruangan, satu bagian”. Kataku memberanikan diri buka mulut. Mira
tampang bingung dan tampak sekali kegelisahan diwajahnya yang putih cantik itu.
”Mmmh, ngga ada apa-apa ko Lan, lo tenang aja ya. Kita-kita ngga ada
masalah ko sama lo. Jadi lo jangan berpikir yang bukan-bukan tentang kita”.
Jawab Mira mencoba menenangkanku. Tapi aku bukannya tenang, malah makin gelisah
mendengarnya.
Seperti biasa
kami makan siang bareng. Sejak kepindahan Dita, aku selalu makan siang dengan
mereka bertiga. Aku, Mira, Lisa, dan Michele. Hari ini terasa berbeda. Aku
merasa aneh. Mungkin Mira merasa tidak enak kalau bicara yang sebenarnya tanpa
sepengetahuan Lisa dan Michele. Akhirnya karna rasa penasaranku yang semakin
memuncak, aku beranikan diri bicara langsung dengan mereka bertiga.
”Mmmh...
sorry ya sebelumnya. Tapi gue belakangan ini bener-bener penasaran nih. Kalian
ada merasa sakit hati atau kecewa ngga dengan perlakuan gue selama ini? Apa gue
bikin kalian risih, kecewa, atau ngga nyaman? Plis dong ngomong jujur. Soalnya
gue merasa kalian agak-agak aneh belakangan ini. Bukannya berprasangka buruk
sih, tapi jujur, gue merasa kalian lagi ngomongin gue”. Kataku dengan wajah agak gelisah.
”Sebenernya
gini Lan..........”.
kata Lisa coba menjawab. ”Apaan sih, ngga ada apa-apa ko Lan. Lo tenang
aja ya, kita-kita ngga ada masalah ko sama lo. Ok !”. potong Mira
kemudian sebelum sempat Lisa meneruskan bicaranya.
”Lho, ko
aneh. Kenapa Lis?”.
tanyaku makin penasaran pada Lisa. ”Lis, udah deh, ngga usah dibahas. Itu
bukan urusan kita. Jangan bikin masalah jadi rumit. Biar nanti Lanie tahu
sendiri. Ngga perlu dari kita”. Jawab Mira kemudian. ”Tapi Lanie
benar-benar harus tau Mir, lebih baik dari kita kan teman-teman dekatnya. Dari
pada dia tau dari orang lain dan bikin dia tambah shock”. Kata Lisa
sambil sedikit agak ngotot. Aku benar-benar mengerti sekarang. Rupanya memang
ada yang disembunyikan oleh mereka dariku. Aku agak sedikit marah. ”Plis
dong, kalian ini kenapa sih? Sebenernya ada apa? Kenapa kalian seolah-olah
musuhin gue? Apa yang bikin gue shock?”. Tanyaku makin penasaran.
Michele yang
sedari tadi diam saja dan hanya menyeruput mochacino panas kegemarannya
akhirnya buka mulut. ”Jadi gini Lan, beberapa hari yang lalu, gue jalan
ke mall sama Lisa. Kita ngeliat pemandangan yang luar biasa ngga biasa banget.
Mmmh.... aduh, gimana ya jelasinnya. Tapi lo jangan shock di sini yah”.
Kata Michele menghela nafas. ”Jadi waktu itu gue sama Lisa ngeliat Dita
sama laki lo Arya makan bareng, trus masuk bioskop. Pliiiis sorrry jangan sedih
di sini ya”. Kata Michele menjelaskan dengan wajah penuh kekhawatiran.
”hahahahah.......”. tawaku meledak seketika. Mira, Lisa, dan
Michele bingung. ”Iich ko lu malah ketawa sih Lan, nyesel deh gue
khawatirin lo”. Kata Mira sambil pasang tampang merengut. ” Ya
ampuuun, jadi ini yang kalian khawatirin, shhihihihi.....”. kataku
sambil tertawa kecil. ”Udah...udaah tenang aja. Mereka ngga ada apa-apa
ko. Emang semenjak Dita pindah ke cabang, tiap pagi dia bareng Arya. Kan
kantornya searah. Terus beberapa hari yang lalu, Dita ngajakin gue nonton, tapi
berhubung gue ngga bisa, jadi gue bilang aja ajak Arya, yah mungkin mereka jadi
kali ya nontonnya. Jadi kalian ngga usah khawatir. Ok !”. jelasku
kemudian demi membuat mereka tenang. ”Oooh, gitu. Syukurlah kalo emang ga
ada masalah antara kalian bertiga, gue takut aja nanti kaya judul sinetron
”Aku, dia, dan kamu””. Kata Mira dengan wajah terlihat lega. ”Hahahahah”.
Kami tertawa bersamaan.
Dirumah, aku
termenung memikirkan pembicaraan tadi siang. ”apa iya Mas Arya dan Dita
nonton berduaan aja gitu?”. tanyaku dalam hati. Sebenarnya aku tidak
benar-benar tahu bahwa mereka nonton berdua. Tadi siang itu aku hanya tidak
ingin membuat suasana makan siang kami menjadi buruk jika aku terlihat kecewa.
Dita yang belakangan ini sibuk dan mengaku hampir tidak ada waktu menelponku,
tiba-tiba ada waktu untuk nonton bioskop, bersama Mas Arya pula. Mungkin
laki-laki memang tidak bisa dipercaya. Tapi Dita? Dita sahabat baikku. Kami
sekolah bersama, lulus bersama, dan tanpa sengaja bekerja di perusahaan yang
sama pula. Kami terlalu dekat untuk saling mengecewakan. Itu tidak mungkin Dita
yang kukenal. Dita tau betul bagaimana cintanya aku pada Arya suamiku. Aku
mencoba menenangkan diri dengan berpikir mungkin ini hanya salah paham saja.
Sudah jam 9
malam, Mas Arya belum juga pulang. Ke mana dia? SMS’ku belum di balas, telponku
juga tidak dia angkat. Beberapa hari belakangan ini Mas Arya sering sekali
pulang telat. ”Iseng deh sendirian, anak-anak sudah tidur. Telpon Dita
ganggu gak yah? Apa dia udah tidur?”. aku coba menelponnya. Lama baru
diangkat.
”Heh, apa
kabar lo? Sibuk banget belakangan ini. Sampe-sampe ngga nelpon-nelpon, ngga
SMS-SMS kasih kabar. Gimana kerjaan lo di sana? Asyik?”. kataku pada Dita di seberang sana. ”Eh..mmh...
besok kita sambung lagi deh ya, gue cape banget hari ini. Dan udah ditempat
tidur nih”. Jawab Dita agak terburu-buru. ”Siapa Ta?”.
ada suara laki-laki terdengar samar-samar bertanya pada Dita. ”Udah dulu
ya Lan, besok pasti gue telpon lo”. Kata Dita makin terburu-buru dan
langsung menutup telpon begitu saja tanpa mengucap salam seperti yang biasa dia
lakukan jika menyudahi telpon.
Jam 10 malam, Mas
Arya baru saja pulang, dan aku sudah tertidur lelap. Aku percaya padanya dan tidak ingin ada masalah dengan
pernikahan kami. Maka aku memutuskan untuk tidak memikirkan apa yang
teman-temanku ceritakan tadi siang. Toh kalaupun mungkin benar, mungkin Dita
hanya tidak suka nonton sendirian dan kebetulan hanya Mas Arya yang bisa menemaninya.
Lagi pula Dita sahabat baikku dari kecil. Jadi itu tidak mungkin terjadi. Tidak
mungkin Dita berbuat begitu dibelakangku. Mustahil.
Hari minggu.
Suamiku masih tertidur dikamar kami. Padahal waktu sudah menunjukkan jam 10
pagi. Sepertinya dia kelelahan sekali. Berkali-kali aku dengar handphonenya
berbunyi, nada SMS. Aku tidak pernah berani membuka-buka handphone miliknya.
Mungkin bagi sebagian besar orang, khususnya para istri, mengecek isi handphone
suami adalah hal yang biasa dilakukan. Bahkan mungkin itu menjadi keharusan
bagi mereka.
Tapi aku tidak
pernah berani melakukan itu.
Sudah 4x
berbunyi. Sepertinya penting sekali. Kubangunkan Mas Arya agar dia melihat isi
SMS yang terkirim sedari tadi. Tapi dia tak bangun juga. Karna rasa penasaranku
semakin menjadi, akhirnya kuberanikan diri membukanya. Dari nomor yang tak dikenal,
tidak tertera namanya di situ. Isi pesan pertama, “Ada yang harus
dibicarakan, sebaikanya anda cepat datang”. Isi pesan kedua, “ini tidak
bisa dibiarkan, jika anda tidak juga mau datang, semua akan berantakan”.
Isi pesan ketiga, “Saya tahu anda sangat sibuk dengan keluarga anda, tapi
tolong jangan mengabaikan saya”. Isi pesan terakhir, “Ini terakhir
kalinya saya peringatkan kepada anda untuk segera menghadapi saya sekarang
juga, jika tidak, anda akan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya”.
Aku panik
membacanya, sepertinya ini masalah besar. Kubangunkan Mas Arya sampai ia
betul-betul terbangun. “Mas, kamu ada masalah dengan siapa? Kenapa isi
SMS nya seperti bernada mengancam seperti ini?”. Tanyaku penasaran
dengan wajah panik dan takut. “Kamu tenang aja, ini Cuma masalah kantor
ko, jadi ngga usah takut”. Jawabnya sambil bergegas bangun dari tempat
tidur dan bersiap pergi. “Kamu yakin semua baik-baik aja?”.
Tanyaku sedikit meyakinkannya. Tapi dia hanya tersenyum, mengelus lembut
pipiku, dan berlalu pergi. “aku harus pergi sebentar, nanti sore kita
jalan-jalan dengan anak-anak”. Katanya lagi lalu pergi berlalu dari
hadapanku. “jangan lupa kabari aku secapatnya jika ada apa-apa mas”.
Teriakku dari dalam rumah sambil melihat dia pergi.
Sudah jam 1
siang, Mas Arya belum juga memberi kabar. Aku memikirkan isi SMS yang kubaca
tadi. Rasanya aneh ada masalah kantor yang bisa mengancam Mas Arya seperti itu.
Apa yang dilakukannya sehingga ada orang yang sampai hati mengancamnya seperti
itu?
Tiba-tiba
terdengar suara orang sedikit ribut di halaman depan rumah.
“aku ngga
mau begini terus mas, bagaimanapun Lanie harus tau. Aku akan bicara baik-baik
dengannya”. Suara itu
seperti suara yang kukenal, kataku dalam hati. Kubuka tirai jendela demi
melihat siapa yang ribut-ribut di luar. Mas Arya dan Dita? Kenapa mereka?
Tumben Dita kemari, bukankah dia belakangan ini sibuk sekali hingga tak sempat
SMS atau menelponku? Apalagi datang ke rumah, aku bergegas membuka pintu,
kemudian Dita menghampiriku dengan tergesa-gesa. Tapi tiba-tiba Mas Arya
menarik lengannya sambil sedikit berteriak. “Dita, jangan berbuat begini
aku ngga mau terjadi sesuatu yang buruk di sini. Semuanya udah berakhir”.
Kata Mas Arya dengan suara sedikit marah. “Tapi itu menurutmu Mas, kamu
harus tegas. Aku ngga mau kamu tinggalin”.
Apa yang Dita
katakan? Mengapa dia bicara seperti itu? Mengapa seolah-olah mereka ada
hubungan? Aku terdiam membatu, tak bisa bicara, tatapanku kosong mendengar
ucapan Dita barusan.
Aku mencoba
menenangkan diri. Kemudian kukuatkan diriku untuk memulai pembicaraan yang
mulai memanas ini. “Stop ! ini sebenarnya ada apa, sekarang juga kita
selesikan di dalam. Kalian berdua harus jujur sama saya. Apapun yang sudah
kalian lakukan dibelakang saya, saya mohon dengan sangat untuk menghargai saya
saat ini. Ceritakan dari awal”.
Kami masuk, duduk
di ruang tamu dan mulai berdialog,
“Lan, gue
mohooon banget. Lo tolong maafin sahabat lo yang hina dan kurang ajar ini Lan.
Gue cinta sama Mas Arya Lan”. Sambil memegang erat kedua tanganku dan berlutut dihadapanku Dita bicara.
Tiba-tiba Mas
Arya memotong kalimat Dita. “Ta, kamu ini apa-apaan sih. Jangan
keterlaluan. Selama ini kamu hanya aku anggap teman biasa, kamu sahabat
istriku. Aku sama sekali tak punya perasaan apa-apa padamu”.
“Jangan
egois Mas, selama ini kamu baik sekali padaku, memperhatikanku, mengantar dan
menjemputku, menemaniku di rumah, nonton, makan, dan kau pikir selama ini
kenapa kau berbuat begitu baik padaku kalau bukan karna kau mencintaiku?
Mungkin tanpa sadar kau mencintaiku Mas Arya. Sehingga kau begitu
memperhatikanku. Jadi tolong jangan menyangkalnya lagi aku mohon, karna aku
juga begitu mencintai kamu dari dulu, jauuuh sebelum kalian menikah. Itu
sebabnya aku tak pernah menikah, itu sebabnya aku tak pernah berusaha mencari
laki-laki lain. Karna kau tak mau juga pergi dari pikiranku selama
bertahun-tahun, dan tiba-tiba saja kau jadi begitu perhatian padaku Mas, dan
membuatku tersadar kalau ternyata kau juga mencintaiku”. Panjang lebar Dita bicara sambil terisak
menatap wajah Mas Arya.
“Kamu udah
gila ya Dita?, itu hanya perhatian biasa, hanya karna kau sahabat Istriku. Yang
aku tahu istriku sangat menyayangi kamu sahabatnya seperti kepada saudara
kandungnya selama ini. Aku hanya menjagamu demi Lanie istriku. Karna Lanie begitu
sayang padamu sebagai sahabatnya. Tak pernah ada rasa cinta untukmu Dita.
Sadarlah”.
Aku semakin
bingung, Dita menangis tak berhenti, terisak dihadapan kami. Air mataku tak
bisa mengalir, meski hatiku pedih teramat sakit mengetahui semua ini. Aku berusaha
tegar. Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Kucoba bersikap lebih dewasa,
kutenangkan diriku, kudinginkan kepalaku dalam suasana yang sangat panas ini
demi menemukan jalan keluar untuk kami bertiga.
“Dita, gue
sama sekali ngga nyangka kalo ternyata lo pernah cinta sama Mas Arya. Kenapa lo
ngga pernah bilang?”.
Tanyaku pada Dita yang masih menangis.
“Laan,
emang bener udah lama banget gue cinta sama Mas Arya, tapi ternyata Mas Arya
milih lo sebelum sempat gue bilang sama lo kalo gue jatuh cinta sama dia, gue
ngga nyangka Mas Arya serius sama lo dan ngelamar lo untuk jadi Istrinya. Lo
sahabat gue Lan, dan lo keliatan bahagia banget dulu itu. Ngga mungkin gue
bilang yang sebenarnya. Gue ngga nyangka belakangan ini Mas Arya sikapnya lain
banget sama gue. Rasa cinta dan sayang yang dulu terpendam dan sudah lama gue kubur
dalam-dalam, tiba-tiba bangkit lagi Lan. Gue ngga bisa menahan perasaan itu
Lan. Terlebih lagi yang gue tau Mas Arya juga cinta sama gue Lan”. Jawab Dita panjang lebar.
Mas Arya kembali
bicara. “Kamu Cuma salah paham Dita, sumpah demi apapun aku berani bahwa
aku memperhatikanmu hanya karna kupikir Lanie menyayangimu sebagai saudaranya.
Lanie yang memintaku untuk menjagamu di kantor barumu itu. Karna Lanie yakin
kau tidak akan mudah berteman dengan orang baru. Setiap hari kau kuajak makan
siang bersama hanya karna Lanie yang memintanya. Kulakukan apapun permintaan
Lanie, karna dia Istriku, aku menyayanginya. Dan aku siap menjagamu demi Lanie.
Bukan karna aku ada perasaan khusus padamu. Tolong mengertilah Dita. Ini hanya
salah paham”.
“Ta, kasih
gue waktu untuk bicara dengan Mas Arya. Sebaiknya sekarang lo pulang dan
istirahat. Gue akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari jalan keluar demi
kebaikan kita bertiga. Jika Mas Arya benar-benar cinta sama lo seperti yang lo
bilang, gue siap mundur demi kebahagiaan kalian. Gue akan bawa anak-anak Mas
Arya, tapi kalau keadaannya tidak seperti itu, gue mohon jangan lagi lo ganggu
rumah tangga gue”.
Dita mencoba
tenang dan menghentikan tangisnya yang sedari tadi ia tumpahkan dan sangat
sulit ia tahan. Kemudian dia memegang tangan Mas Arya. Aku pedih melihatnya.
Tapi kucoba bertahan. “Mas Arya, aku mohon jangan kau sangkal perasaanmu
padaku. Katakan dengan jujur pada Lanie Mas, aku mohooon”. Kata Dita
sambil menggenggam erat kedua tangan Mas Arya. Tapi kemudian Mas Arya
melepaskan tangan Dita dengan sedikit memberontak.
“Udah Ta, lo pulang dulu, Biar gue ngomong sama suami gue ini”. Kataku sambil agak ngotot padanya.
“Udah Ta, lo pulang dulu, Biar gue ngomong sama suami gue ini”. Kataku sambil agak ngotot padanya.
Dita pulang, aku
terduduk, diam tanpa kata. Tak tahu dan tak mengerti harus memulai dari mana.
Aku bingung. Tiba-tiba Mas Arya menggenggam kedua tanganku.
“Lan, aku
mohon, jangan terpancing perkataan Dita. Itu ngga bener Lan. Aku sama sekali
ngga ada perasaan apa-apa padanya. Aku hanya menjaganya seperti yang kau minta.
Kau pula yang memintaku mengantar dan menjemputnya dari kantor setiap
hari, karna Dita belum terbiasa. Aku sama sekali tidak menyangka dia bisa
berpikiran seperti itu. Tentang dia yang mencintaiku jauh sebelum kita menikah,
aku sama sekali ngga tau apa-apa. Jangan kau pikir aku pernah berbuat yang
tidak-tidak dengannya Lan. Aku berani bersumpah, tak pernah terjadi apa-apa
antara aku dengan Dita. Memang pernah beberapa kali kami pergi nonton, makan
malam, dan aku menemaninya di rumahnya. tapi itu karna kau kan yang menyuruhku
menemaninya. Karna ia hanya seorang diri di rumah, di kota ini, tanpa orangtua
dan saudara. Bukan mauku. Aku tak
menyangka dia berpikiran seperti itu”.
Tunggu dulu, aku
sedikit kaget mendengar pernyataan Mas Arya yang mengatakan bahwa aku
memintanya menemani Dita nonton, makan, dan menemaninya di rumah. Kapan aku
pernah menyuruhnya melakukan itu? Seingatku aku hanya minta Mas Arya pergi dan
pulang bareng dengan Dita. Itupun karna mereka satu arah setiap pergi dan
pulang. Bukan karna aku memintanya menjaga Dita sampai lebih dari itu.
“Apa kamu
bilang? Aku memintamu menemaninya nonton, makan malam, dan menemaninya di
rumahnya? Kapan aku menyuruhmu begitu Mas?”. Tanyaku penasaran dengan alis mengerut.
Mas Arya terdiam,
Ia sedikit berfikir. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Tapi terlihat sekali
dia seperti sedang berusaha mengingat-ingat sesuatu. Kemudian dia berucap lagi.
“Kamu benar
sekali Lan. Kamu benar, kamu sama sekali tak pernah menyuruhku menemaninya
secara langsung. Dita yang mengatakannya padaku setiap kali kami jalan bareng.
Waktu itu dia bilang dia sudah menelponmu dan mengajakmu, tapi kau bilang kau
tidak bisa karna tidak bisa meninggalkan pekerjaanmu dikantor, lalu dita bilang
kau menyuruhku menemaninya. Aku takut kau marah jika aku menolak suruhanmu itu,
jadi selalu ku iyakan. Tapi kenapa tak pernah terpikirkan olehku kalo ternyata
Dita berbohong”.
Ucapan Mas Arya membuatku terdiam dan berfikir sejenak. Memang selama beberapa
kali Mas Arya pulang malam, aku selalu sudah tertidur. Ketika besoknya ingin
kutanyakan, aku selaaalu lupa akan pertanyaan “ke mana ia semalam”.
Saking percayanya aku pada Mas Arya, tak terpikirkan olehku kalau ia pulang
malam karna jalan dengan perempuan lain.
“Aku selalu
ingin bertanya, kenapa kau selalu memintaku menemani Dita. Padahal terkadang
aku lelah. Tapi setiap kali ingin kutanyakan, kau selalu tertidur lebih dulu
dan esoknya aku pasti lupa menyanyakanmu”. Kata Mas Arya sambil memandangku yang sedang
terdiam kebingungan. “Aku mohon Lanie, percayalah padaku. Kau boleh
mencari tau atau mencari bukti apapun tentang masalah ini. Aku tak pernah
mengucapkan cinta pada Dita, aku tak pernah mengatakan sayang padanya
sekalipun, apalagi memintanya menjadi kekasihku, aku juga tak pernah bicara
yang seolah-olah aku mencintainya. Semua perlakuanku padanya hanyalah perlakuan
biasa. Aku rasa dia benar-benar salah paham. Aku sangat menyayangimu dan
anak-anak melebihi apapun, bahkan aku mau menukar nyawaku demi
kalian. Aku terlalu mencintaimu sehingga apapun permintaanmu kuturuti. Tapi tak
kusangka Dita membodohiku dengan mengatakan semua itu permintaanmu. Dita tau
betul aku mencintaimu dan mau berbuat apa saja yang kau perintahkan. Percaya
padaku aku mohon”.
Perkataan Mas Arya
betul-betul membuatku bingung. Aku berfikir semalaman. Semuanya memang masuk
akal apa yang diucapkan Mas Arya. Terlebih lagi Dita memang sepertinya
mencintai Mas Arya sejak dulu. Aku pernah ingat. Dulu, duluu sekali, sebelum
pernikahan kami. Dita sempat ingin memberitahuku siapa laki-laki yang diam-diam
ia cintai. Dia betul-betul membuatku penasaran. Tapi entah apa yang membuatnya
tidak jadi memberitahukanku siapa laki-laki itu. Sampai akhirnya waktu berlalu,
aku menikah dan akhirnya melupakan pembicaraan itu. Dan kini aku tahu kenapa
Dita tak pernah jadi mengatakannya padaku, ternyata Mas Aryalah laki-laki yang
selama ini ia cintai.
Tapi semua sudah
terlambat. Dulu kami memang satu sekolah bertiga. Aku, Mas Arya, dan Dita. Dulu
kami berteman. Memang banyak sekali yang menyukai Mas Arya. Ia memang sosok
laki-laki yang bisa dibanggakan oleh perempuan manapun yang memilikinya. Aku
tak heran jika Dita diam-diam juga menyukainya. Tapi tak pernah sekalipun Dita
menunjukkan perasaannya pada Mas Arya waktu sekolah dulu. Aku tak menyangka
saat Mas Arya mengatakan bahwa ia menyukaiku, kemudian dia memintaku menjadi
pacarnya. Sungguh sangat berbunga-bunga hatiku. Yang tak kusangka darinya
adalah ternyata dia laki-laki penyabar, penyayang, dan setia. Hingga kami lulus
sekolah, kuliah dan bekerja. Kami tetap bersama. Kami pacaran memang cukup
lama. Hingga tak disangka kamipun menikah. Sungguh aku sangat mempercayainya.
Ia suamiku. Dan sudah sewajarnyalah kalau aku lebih mengenal siapa suamiku
ketimbang siapa sahabatku yang tinggal berbeda rumah denganku. Wajar bila aku
lebih percaya suamiku.
“Aku
percaya padamu Mas, tapi apa yang harus kita lakukan pada Dita. Dia begitu
yakin kalau kau mencintainya. Aku merasa bersalah. Kenapa dulu aku memintamu
menjaganya, kenapa dulu aku memintamu menemaninya makan siang, kenapa dulu aku
memintamu mengantar dan menjemputnya kerja. Hanya karna ia sahabatku, aku tak
mungkin merelakan rumah tangga yang sudah kita bina bertahun-tahun hancur karna
seorang sahabat”.
Memang masih banyak orang-orang yang berfikiran kalau sahabat lebih penting
dari apapun juga. Tapi kalau kupikir-pikir sekarang, rasanya itu terlalu
kekanakan. Karna bagaimanapun juga suamilah yang paling penting dari sahabat.
Laki-laki yang kita cintai dan yang mencintai kitalah yang paling penting
dihidup kita. Bukan lagi sahabat seperti dulu. “Sekarang, apa yang harus
kita katakan pada Dita? Aku bingung. Sungguh bingung mas”.
“Syukurlah
kalau kau percaya padaku. Jangan salahkan dirimu. Aku yang bodoh. Bertindak
tanpa berfikir terlebih dahulu. Tapi aku bukan laki-laki penghkianat. Terlebih
lagi aku sangat mencintai kedua buah hati kita. Mereka lucu, cantik dan tampan.
Tak mungkin aku rela berpisah dengan kalian”.
Kami terdiam.
Berfikir apa yang harus kami katakan pada Dita. “Biar aku yang akan
bicara perlahan-lahan pada Dita”. Kataku kemudian. “Tapi aku
takut kalau dia meracuni pikiranmu, menghasutmu dan memojokkanku seolah aku
yang salah”.
Mas Arya benar.
Pastilah Dita tidak akan terima begitu saja. Tak kusangka, Dita memanipulasi
rumah tanggaku dengan Mas Arya. Tapi aku mengerti kenapa ia berbuat sampai
sejauh itu. Wajar dia berbuat begitu jika ia sangat mencintai Mas Arya.
Perempuan cenderung akan melakukan apa saja demi cintanya. Tapi kenapa Dita? Ya
Tuhaaan, kumohon berikan aku kekuatan bicara pada Dita dan sadarkanlah Dita.
Besok malamnya,
aku mendatangi rumah Dita.
“Ta, jujur
gue bingung mau ngomong apa. Tapi gue harap lo ngerti......”. belum sempat kuteruskan semua kalimat
yang ingin kukeluarkan, tiba-tiba Dita memotong kalimatku.
“Udahlah
Lan, ngga usah dibahas lagi. Gue salah, dan gue sadar gue egois. Maaf Lan,
tolong maafin sahabat lo ini. Belasan tahun mencintai Arya dan sulit melupakan
dia. Sampai-sampai tak ada satu laki-lakipun yang gue tanggapin. Karna sulitnya
melupakan Arya. Gue sering merasa sakit kalo ngeliat kalian berdua, pedih
rasanya. Tapi cinta ngga bisa dipaksakan. Gue tau betul Arya ngga pernah cinta
sama gue. Gue cuma egois aja, dan ngga mau tau perasaan Arya. Gue cuma mau
bikin Arya juga jatuh cinta sama gue. Tapi gue ngga berhasil. Sepertinya dia
bener-bener ngga bisa ninggalin lo. Dia betul-betul cinta sama lo Lan. Dia
laki-laki yang luar biasa. Mulai detik ini, gue ngga akan lagi ganggu kalian.
Gue betul-betul minta maaf”.
Aku betul-betul
terkejut mendengar pernyataannya. Tak lama kemudian, Dita menyuruhku pulang dan
mengantarku sampai ke pintu. Ia memelukku di ambang pintu. Memohon maaf padaku
yang sebesar-besarnya dan berjanji tidak akan mengganggu Mas Arya lagi. Akupun
kemudian pulang.
Sudah beberapa
hari ini aku tak lagi mendengar kabar dari Dita, handphone dan telepon
rumahnyapun sangat sulit dihubungi. Terkadang nyambung, tapi kadang tidak
aktif. Saat nyambung, ku coba mengirim SMS, menanyakan bagaimana kabarnya.
SMSku terkirim, tapi ia tak membalas. Aku yakin dia membacanya. Hanya saja
enggan untuk berhubungan lagi dengan keluargaku. Aku mencoba meneleponnya ke
kantor, tapi ternyata, Dita sudah resign sejak seminggu yang lalu. Itu ketika
aku datang ke rumahnya terakhir kali.
Aku sangat
mengkhawatirkannya, bagaimanapun Dita sahabatku. Kami pernah bersama-sama dalam
waktu yang cukup lama.
Aku mencoba ke
rumahnya. Tapi Dita tak ada. Ketika aku menutup pintu pagar rumahnya, tiba-tiba
tetangga sebelah rumah Dita menghampiriku. “Mba ini kalo boleh tau
namanya siapa ya?”. Tanya tetangga Dita padaku. “Nama saya Lanie
Bu, kenapa ya?”. Tanyaku kembali padanya. “ooh betul ini Mba
Lanie, mba Dita titip surat sama saya. Katanya, tolong sampaikan pada orang
yang mungkin akan ke rumah ini jika bernama Lanie. Begitu katanya. Ini
suratnya”. Katanya sambil menyodorkan amplop merah jambu bertuliskan “untuk
Lanie”. “ooh begitu, makasih banyak ya Bu, saya pamit pulang dulu”.
Kataku kemudian sambil pergi berlalu. “Iya... mba silahkan”.
Jawabnya kembali.
Sesampainya di
rumah, kubuka amplop surat dari Dita bersama Mas Arya. Isi surat itu,
“Lanie sahabatku yang selalu manis dan baik hati, saat lo
baca surat ini gue udah ngga ada. Gue putuskan untuk pergi jauh. Ke mana gue
pergi lo ngga usah tau. Yang jelas, gue pergi bukan untuk mencari rumah tangga
baru yang mau gue bikin kacau. Hahaha.
Gue betul-betul minta maaf. Apapun yang terjadi antara
gue dan Arya, percayalah ngga terjadi apa-apa diantara kami. Arya laki-laki
setia dan baik hati. Sangaaat baik hati. Hingga dia bisa membuat perempuan yang
mencintainya salah paham seperti itu. Mohon jangan lagi mengingat-ingat masalah
ini lagi Lanie. Bahagialah dengan keluarga kalian seperti selama ini.
Mas Arya, aku tau saat ini kamu pasti sedang ada di
samping Lanie bersama-sama membaca surat ini. Aku juga mohon maaf padamu yang
sebesar-besarnya hingga membuatmu bingung dengan perasaanku. Maafkan
keegoisanku selama ini. Aku sangaaat mencintai kalian lebih dari hidupku. Aku
tak akan rela melihat kebahagiaan kalian sirna. Tolong lupakan aku dan kejadian
ini. Aku juga berterima kasih pada Mas Arya yang telah memberikanku hari-hari
penuh semangat dan merasa diperhatikan waktu itu”.
Love,
Dita Marlita
Kututup dan
kulipat surat dari Dita, kuselipkan diantara lembaran buku agendaku. Dita,
dimanapun kau berada. Aku sangat meminta maaf dari hatiku yang paling dalam.
Karna bagaimanapun sayangnya aku pada sahabatku, aku tetap tidak mungkin rela
melepas cintaku. Maafkan aku Dita. Semoga kau menemukan kebahagiaan lain
ditempatmu yang baru.
* S E L E S A I *
Oleh, Upay
Baca juga kisah lainnya,
No comments:
Post a Comment